Teknologi ban peluru tidak hanya diperuntukkan bagi militer atau pemimpin politik, melainkan juga digunakan dalam berbagai situasi keamanan untuk melindungi pengendara. Ban ini dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan kendaraan tetap bergerak meskipun tekanan udara di dalamnya telah hilang sepenuhnya. Jadi, bagaimana sebenarnya cara kerja ban peluru ini?
Di Amerika Serikat, tidak terdapat sistem peringkat resmi seperti pada rompi pelindung untuk menilai ketahanan ban terhadap tembakan. Di Eropa, standar FINABEL yang berlaku di 25 negara mengharuskan ban kendaraan tempur untuk tetap dapat menempuh jarak 100 kilometer di jalan atau dua jam di medan off-road setelah mengalami kerusakan. Ban-bandar ini biasanya terbuat dari bahan seperti Kevlar atau memiliki ketebalan karet hingga sepuluh kali lipat dibandingkan ban biasa. Untuk meningkatkan kekuatan, banyak dari ban ini juga dilengkapi dengan penguat logam.
Berikut adalah berbagai jenis ban peluru yang saat ini tersedia:
-
Ban dengan dukungan tambahan: Ban ini tidak bergantung pada struktur ban itu sendiri ketika kehilangan tekanan. Sebagai gantinya, blok atau cincin yang melengkung dipasang di roda untuk memberikan permukaan agar bisa berkendara. Metode ini memberikan kesempatan lebih besar untuk melarikan diri setelah terjadi tembakan. Meskipun ban hancur, struktur dukungan tambahan tetap utuh.
-
Ban penyegelan otomatis: Konsepnya adalah lapisan di antara ban dan udara di dalamnya akan mengembang dan mengeras saat ditembus, menjaga udara tetap berada di dalam ban. Meskipun ringan dan memberikan kenyamanan berkendara yang memadai, ban ini hanya dapat menyegel dengan lubang kecil dan kurang efektif saat tergores atau mengalami benturan keras.
-
Ban run-flat dengan dukungan sendiri: Dikenalkan oleh Michelin pada tahun 1930-an, ban ini dirancang dengan dinding samping dan tapak yang diperkuat untuk menopang berat kendaraan apabila kehilangan udara. Ban ini dapat digunakan meskipun tanpa udara, meskipun hanya untuk jarak tertentu. Di militer, ban ini mampu menahan beberapa tembakan sebelum tetap dapat bergerak sejauh 100 kilometer.
- Ban tanpa udara: Inovasi terbaru dalam kategori ban peluru adalah ban tanpa udara. Menggunakan material baru yang lebih ringan dan lebih tahan kerusakan dibandingkan ban tradisional, Michelin memperkenalkan model Uptis yang dicetak 3D. Walaupun masih dalam tahap pengembangan, ban ini menjanjikan performa yang jauh lebih baik tanpa risiko kebocoran.
Dari semua opsi yang ada, setiap jenis ban peluru memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penggunaan ban peluru dapat berbeda tergantung pada situasi dan jenis kendaraan yang digunakan. Meski demikian, teknologi ini terus berkembang menuju fitur yang lebih inovatif, seperti ban tanpa udara yang menjanjikan keselamatan lebih tinggi di masa depan. Ketersediaan berbagai jenis ban peluru ini menunjukkan pentingnya keamanan dalam kendaraan, baik untuk situasi militer maupun penggunaan sipil sehari-hari.